Ibadah yang Tidak Pernah Bersalam: Ujian Terpanjang itu Bernama Pernikahan. Oleh Sofiatafta.
Dua orang bisa saling mencintai habis-habisan; berbagi tubuh, waktu, rumah, dan tawa; tidur berdampingan bertahun-tahun—
lalu suatu hari, ada sesuatu yang berubah.
Bukan selalu karena satu ledakan besar. Kadang hanya luka kecil yang dibiarkan menumpuk, diam yang terlalu lama, atau kelelahan yang datang lebih dulu pada salah satu hati. Kita tidak pernah benar-benar tahu kapan kasih sayang bergeser arah—atau kapan seseorang memutuskan untuk tidak lagi pulang, meski ia masih berada di rumah yang sama.
Mungkin karena itu menikah disebut sebagai ibadah yang bernilai menyempurnakan separuh agama—ibadah yang berlangsung seumur hidup. Sebab yang bernilai pahala bukan hanya momen saling mengasihi, melainkan juga perjuangan untuk tetap mengasihi, hari demi hari; saat ego ingin menang, saat emosi ingin meledak, saat tubuh lelah, saat kata-kata nyaris menjadi senjata.
Setiap ibadah memiliki penutup. Sholat ditutup dengan salam. Zakat selesai saat ditunaikan. Puasa berakhir saat magrib. Umrah ditutup dengan tahallul. Ada satu titik selesai yang menandai: “cukup, ini telah tertunaikan.”
Tetapi dalam pernikahan, ibadahnya tidak benar-benar selesai selama dua manusia masih bersama. Ia terus berjalan—kadang tenang, kadang terjal—hingga ditutup oleh salah satu dari dua penutup yang paling berat dan menyakitkan: perceraian, atau kematian.
Karena pernikahan adalah ujian karakter yang paling jujur.
Di dalam pernikahan, Allah seakan membuka sisi-sisi diri yang tidak selalu tampak di luar: kesabaran yang sesungguhnya, amarah yang paling rapat disembunyikan, keikhlasan yang diuji, ego yang ingin diutamakan, kemampuan meminta maaf, kemampuan memberi, cara kita menanggung kekurangan pasangan, dan cara kita mensyukuri kelebihannya. Semuanya muncul tanpa diminta—sebab pernikahan bukan panggung, melainkan kehidupan.
Ketika terluka oleh orang lain, seseorang masih bisa menghindar. Bisa menjauh, memutus percakapan, mengganti lingkungan. Tetapi ketika marah kepada suami atau istri, jalan keluarnya tidak sesederhana itu. Pada akhirnya, ia harus dihadapi—entah melalui diam yang sehat, dialog yang berat, air mata yang diseka diam-diam, atau keberanian untuk berkata, “aku sedang rapuh, jangan tambah aku jatuh.”
Itulah sebabnya pahala menikah berlipat-lipat: karena seluruh perjalanan hidup menjadi ladang ibadah—bukan hanya di hari bahagia, tapi juga di hari sulit.
Aku pernah berkata pada kakakku, “Kita sering mengira tirakat itu puasa, sholat panjang, ziarah. Padahal ikhlas menerima cobaan juga salah satu bentuk tirakat.” Dan salah satu cobaan yang paling berat adalah menghadapi seseorang yang tidak bisa kita hindari: orang tua, saudara kandung, pasangan, anak—mereka yang dekat sekali hingga jarak pun tidak mampu melindungi.
Bahkan para nabi pun tidak hanya diuji lewat ritual. Banyak dari mereka justru diuji lewat orang-orang terdekat: Nabi Luth diuji dengan istrinya, Nabi Nuh dengan anaknya, Nabi Yusuf dengan saudara-saudaranya, Nabi Musa dengan lingkungan yang membesarkannya, Nabi Muhammad dengan keluarganya dan orang-orang yang paling ia harapkan dukungannya. Ujian paling mengguncang sering datang bukan dari yang jauh, melainkan dari yang dekat—sebab yang dekat memiliki akses paling dalam ke hati kita.
Dan di situlah ironinya:
orang yang paling kita cintai, sering kali juga menjadi orang yang paling mampu membuat kita terluka sedalam-dalamnya.
Karena cinta memberi seseorang kunci.
Dan dari kunci itu, lahir kemungkinan: untuk menjaga… atau tanpa sengaja melukai.
Ditulis Oleh: Sofiatafta.